Selama ini produk olahan kelapa kita masih terbatas, baik dalam jumlah maupun jenisnya. Padahal banyak produk bernilai ekonomi tinggi yang masih prospektif dikembangkan, seperti Virgin Coconut Oil, oleokimia, dan perkakas rumah tangga. Hanya saja, sekarang industri kelapa mulai menjerit kekurangan bahan baku.

Bahan Baku Menyusut

Menurut Amrizal Idroes, Wakil Ketua Umum Himpun an Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI), dalam suatu diskusi ber sama pemerintah beberapa waktu lalu di Jakarta, akibat kekurangan bahan baku, utilisasi industri pengolahan kelapa menur un hing ga 30%50% sejak bebe rapa tahun terakhir. Saat ini ada sekitar 50 industri pengolahan kelapa yang membutuhkan 9,6 miliar butir kelapa. Adapun total kebutuhan untuk industri, konsumsi rumah tangga, dan ekspor sebanyak 14,63 miliar butir kelapa.

Sedangkan, total aset industri kelapa nasional selama 25 tahun terakhir mencapai kisaran Rp30 triliunRp35 triliun. HIPKI menduga ada beberapa faktor yang membuat bahan baku sulit, di antaranya produktivitas tanaman kelapa menurun akibat sudah tua, tidak ada peremajaan, alih fungsi lahan per kebunan, dan pengaruh El Nino. “Yang tidak kalah penting, faktor ma rak nya ekspor kelapa segar,” cetus Amrizal. Pihak Ditjen Perkebunan, Ke mentan, mengakui, saat ini kelapa kurang menjadi prioritas. Banyak perkebunan kelapa dikonversi untuk komoditas lain yang lebih seksi, seperti kelapa sa wit. Jadi, luas perkebunan kelapa terus berkurang sehingga produksi pun menurun.

Larang Ekspor Kelapa Segar

Amrizal mengatakan, ekspor berbahan mentah baik legal maupun ilegal menyebabkan bahan baku kelapa dalam negeri tersedot ke Malaysia dan Thai land. Karena itu pihaknya meminta pemerintah menutup pintu ekspor buah kelapa segar. Jika pemerintah menutup ekspor buah kelapa segar, devisa ekspor kelapa olahan nasional berpotensi mencapai US$2,4 miliar atau berpeluang naik dua kali lipat dari realisasi ekspor tahun lalu sebesar US$ 1,2 miliar. “Selain itu penerapan bea keluar juga dapat menjadi opsi pemerintah mengerem ekspor kelapa gelondongan,” jelasnya. Lebih jauh Amrizal mengatakan, nega ra tetangga seperti Thailand, Malaysia, bahkan China cukup ekspansif men cari bahan baku buah kelapa hingga ke Indonesia. Walhasil, industri kela pa olahan nasional kesulitan memperoleh bahan baku.

Berdasarkan Sen sus Pertanian, total ketersediaan bahan baku kelapa segar sebanyak 12,9 mili ar butir. Sedangkan kebutuhan kelapa 2015 sebanyak 14,63 miliar butir. Memang harga jual untuk ekspor lebih tinggi ketimbang harga di dalam ne geri. Negara tujuan ekspor kelapa bu lat adalah Malaysia dengan harga Rp50-Rp200/kg lebih tinggi. Terdapat tiga kategori harga jual kelapa ber dasarkan kualitasnya. Pertama, kategori A dengan kualitas kelapa baik dan besar dihargai industri sebesar Rp2.700/ kg. Kedua, untuk kategori B dengan kelapa tercungkil atau ukuran kecil dihargai sebesar Rp1.300/ kg. Sementara kategori C adalah ke lapa rusak, dihargai Rp500/kg. “Jika harga Malaysia lebih baik, petani lebih memilih menjual ke Malaysia dibanding men jual ke perusahaan dan industri,” ujar Amrizal.

Terkait keinginan HIPKI, Kementerian Perdagangan ingin berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Kemen terian Perindustrian. Nurlaila Nur Muhammad, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehu tanan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Kemendag, mengatakan. “Kami punya dua opsi, larangan eks por ke lapa mentah atau menerapkan bea keluar,” ujarnya. Nurlaila mengakui, ekspor kelapa mentah memang makin marak bebe ra pa tahun terakhir. Menurut catatan Kemendag, ekspor kelapa pada 2015 naik 4,4% di atas tahun sebelumnya men jadi 1,73 juta ton, dengan nilai ekspor US$1,14 juta. Ekspor terdiri dari ekspor kelapa mentah yang tumbuh 14,94% menjadi 640.962,1 ton. Sebaliknya, ekspor kelapa olahan justru merosot 0,87% menjadi 1,09 juta ton.