Arief Darmono, petani hortikultura di Sukabumi, Jabar, mengatakan, cuaca yang ekstrem saat ini sangat mempengaruhi produksi tanaman cabainya. Curah hujan yang tinggi membuat buah cabai membusuk dan bunga pada cabai yang baru ditanam pun rontok. Arief memperkirakan, produksi kemungkinan turun hingga 50%. “Hujan terus menerus, paling parah tanaman itu terserang buahnya jadi pada busuk,” ungkapnya kepada AGRINA (6/1). Buah cabai, jelas Arief, terkena penya kit antraknosa yang disebabkan cendawan. Hal senada juga dikatakan Sutrisno, petani cabai asal Jember, Jatim. Ia mengungkapkan, produksi cabai kelompok tani Desa Cangkring, Kec. Jenggawah, Kab. Jember, mengalami penurunan hingga sekitar 60%. “Tu run dratis karena banyak hujan, cu ma sekitar 20%-25% yang bisa diselamatkan,” terang Ketua Kelompok Tani Bina Tani Usaha Horti itu.

Harga di Tingkat Petani

Kesulitan berproduksi tersebut mengerek harga cabai di pasaran. Namun, sebenarnya tidak semua jenis cabai har ganya “pedas”. Umumnya harga ca bai rawit yang tinggi. “Harga cabai rawit di tingkat petani Rp65 ribu-Rp70 ribu/kg. Tapi itu juga sudah agak turun,” kata Arief. Sedangkan cabai keriting justru mengalami penurunan dengan harga berkisar Rp22 ribu-Rp25 ri bu/kg. Dia menambahkan, harga cabai di kisaran Rp20 ribuan/kg bisa dibi lang bagus karena sebanding dengan ongkos produksinya. Sutrisno yang memproduksi cabai merah besar untuk industri pengolah cabai juga mendapatkan harga sekitar Rp26 ribu- Rp27 ribu/kg. “Kami menjalin kemitraan. Jadi, harganya sudah ada kesepakatan.

Tiap minggu berubah. Kalau harga pasar sedang tinggi, ya ada kompensasi juga,” te rangnya. Namun, Sutrisno mengakui tanam an cabainya tidak dapat memenuhi volume yang diminta pabrik karena turunnya produksi cabai. “Terakhir panen Oktober. November sampai Desember tinggal memanen sisa-sisa yang bisa diselamatkan saja,” ungkapnya sedih. Arief menjelaskan, strategi yang dapat dilakukan untuk penyelamatan cabai adalah tindakan preventif. “Kalau sudah terlihat gejala, langsung kita gunakan fungisida. Dosisnya diting katkan, intervalnya dikurangi. Karena itu biaya produksi otomatis menjadi tinggi. Kalau tidak dilakukan tindakan, ya makin tidak terkendali kerusakannya,” ulas pria asal Yogyakarta ini. Petani cabai yang sudah 20 tahunan bertanam cabai tersebut juga mengaplikasikan pupuk mikro untuk menambah daya tahan tanaman. “Saya gunakan pupuk mikro yang disemprot ke daun. Memang tidak terlalu signifikan tapi lumayan untuk peningkatan daya tahan tanaman itu sendiri,” jelasnya.

Strategi

Sutrisno memperkirakan, kemungkinan cuaca mulai stabil pada April. Dengan stabilnya cuaca atau berkurangnya curah hujan, produksi cabai akan kembali normal dan harga pun kemungkinan akan turun. “Kita lihat saja nanti. Sekarang saya juga baru tanam. Kalau hujan terus, bunganya rontok dan pengaruh ke produksi bulan berikutnya,” kata Sutrisno. Selain itu, Arief menyarankan adanya sistem pemantauan jadwal tanam di seluruh Indo nesia. “Orang kita itu, kalau ada harga mahal, semua ikut tanam. Nanti begitu panen berbarengan, harganya anjlok. Jadi, sebaiknya ada sistem peman tauan biar tiap daerah bisa menyesuaikan berdasarkan kebutuhannya,” sarannya. Untuk menghindari dampak anjloknya harga komoditas, Arief mewantiwanti petani sebaiknya tidak bertanam secara monokultur (satu jenis komoditas). “Kalau bisa tanam tumpang sari. Jadi kalau harga satu komoditas anjlok, komoditas yang lain masih bisa menyangga,” pungkas