Luas perkebunan kelapa sawit nasional yang sudah mencapai 11 juta ha lebih untuk sementara ini tampaknya dianggap cukup oleh Presiden Jokowi. Presiden lebih menginginkan petani dan pengusaha perkebunan sawit melakukan intensifikasi ketimbang membuka lahan baru guna mendongkrak produksi. Di sisi lain, pekebun tentu menginginkan usaha yang menjadi andalan mereka selama ini bisa berkelanjutan. Pemilihan benih menjadi semakin krusial dalam konteks keberlanjut an (sustainability). Petani yang kini dalam ta hapan hendak meremajakan kebunnya tak boleh lagi terjebak mena nam benih asalan karena akan melihat dampaknya tiga hingga empat tahun kemudian. Be nih asalan tidak akan mencapai produktivitas tinggi kendati dipasok nutrisi yang memadai.

Pun demikian bagi perusahaan perkebunan, menanam sawit merupakan investasi jangka panjang. Diharapkan, tanaman sawit mereka mampu melewati siklus ekonominya selama 25 – 30 tahun agar memberikan profit maksimal. Karena itu, mereka harus memilih benih yang berpotensi memberikan hasil panen tinggi. Berbicara dalam seminar “Inovasi dan Tek nologi Terkini dalam Upaya Meningkatkan Produktivitas Sawit Secara Berkelanjutan” di Jakarta (18/5), Indra Syahputra sempat memberikan perhitungan untuk memperbaiki produktivitas sawit nasional. “Bagaimana kalau kita naikkan produkti vitas Indonesia dari rata-rata 3,7 ton menjadi 5 ton saja per hektar. Selisih 1,3 ton/ha dikalikan 8,5 juta ha luas kebun tanaman menghasilkan (TM) berarti ada 11 juta ton CPO. Dikalikan harga CPO Rp8.300/liter, maka ada tambahan Rp9,7 triliun,” ungkap pemulia benih sawit dari PT Socfin Indonesia. Jumlah itu layak diperjuangkan.

Produktivitas Tinggi

Indra Syahputra mendefinisikan benih berkelanjutan adalah benih yang produktivitasnya tinggi, memiliki ketahanan terhadap hama penyakit, efisiensi terhadap pemupukan, adaptif terhadap cekaman lingkungan, dan siklus ekonomi yang panjang. “Bahan tanaman yang memiliki produksi tinggi akan memberikan keuntungan yang tinggi bagi perusahaan. Profit yang diperoleh perusahaan jelas berdampak po sitif pada keberlangsungan perusahaan, kesejahteraan karyawan, dan pada akhirnya meningkatkan kegiatan ekonomi di sekitar perusahaan,” paparnya. Untuk memperoleh sifat tanaman yang seperti itu, Indra dan timnya merakit bahan genetik yang mereka miliki. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, janjang (tandan) yang besar dan terlihat cantik ternyata tidak menghasilkan produktivitas tinggi secara total. Ini dibandingkan dengan ukuran janjang yang kecil tetapi jumlahnya banyak.

Namun, tanaman yang janjangnya banyak dengan ukuran kecil-kecil ternyata ada kelemahan ketika ditanam. “Jumlah serbuk sari bunga jantan tidak mencukupi untuk menyerbuki seluruh bunga be tina, terutama pada tanaman muda umur 3-6 tahun,” papar alumnus Faperta IPB tersebut. Akibatnya, banyak buahnya yang kemps. Menurut Fruit Setting Consortium, banyak faktor yang mempengaruhi buah kem pes. Satu, memang polennya langka. Kedua, serangga penyerbuknya tidak agre sif lagi, daya terbang tidak jauh, malas, kalau musim hujan tidak terbang. Ketiga, viabilitas polen rendah sehingga banyak buah kempes. Untuk mengatasi hal itu, pihaknya mengembangkan tanaman khusus penghasil bunga jantan atau disebut supermale.

Tanaman ini ditempatkan pada blok tanam an sawit yang produksi bunga jantannya kurang pada 2014. Ternyata hasilnya cukup menjanjikan. Supermale tadi pada 2016 menghasilkan 95,6% bunga jantan. “Hasil pengamatan pada tanaman komersialnya selama dua bulan menunjukkan pe ningkatan berat janjang hingga 10%, fruit setting (pembentukan buah) hingga 43%, buah per tandan hingga 19% dan produksi hingga 22%,” ungkap Indra.