Categories
My Blog

Si “Bos” di Kebun Sawit

Kementerian Perdagangan mencatat pada 2016 jumlah penduduk Indo nesia sekitar 258,5 juta jiwa dengan rata-rata konsumsi daging sekitar 2,61 kg/kapita/tahun. Seiring kenaikan pendapatan, angka ini dipercaya juga akan naik. Rochadi Tawaf, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) menyebut, peningkatan konsumsi daging sapi yang berkisar 8%-10%/tahun belum dapat diimbangi oleh laju peningkatan populasi sapi dan kerbau di dalam negeri. Untuk memenuhi konsumsi tersebut, Indonesia membutuhkan 3,96 juta ekor sapi potong atau setara dengan 674,695 ton daging ruminansia bergenus Bos ini. “Ketersediaan daging lokal untuk konsumsi masyarakat hanya 2,6 juta ekor. Ada gap (kesenjangan) antara ketersediaan dan permintaan sebesar 1,36 juta ekor atau setara 231,2 ribu ton daging sapi,” ujar Dosen dan Peneliti Universitas Padjadjaran (Unpad) ini ketika tampil da lam Seminar Nasional AGRINA Agribu si ness Outlook 2017 di Jakarta, 15 Desember lalu.

Upaya Peningkatan Populasi

Berupaya untuk meningkatkan populasi, pemerintah antara lain menargetkan penambahan indukan sapi potong sebanyak 200 ribu ekor pada 2017 melalui program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus SIWAB). Nasrullah, Direktur Pakan Ternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan He wan, Kementerian Pertanian mengakui, masih ada kendala dalam pelaksanaannya. “Salah satu kendalanya itu ketersediaan pakan dan lahan,” ungkap Nasrullah me wakili Kementan di diskusi terbatas “Si nergi dan Sinkronisasi Program Kegiatan Integrasi Sawit-Sapi dalam Mendukung Peningkatan Populasi Ternak Sapi Potong Nasional” yang diselenggarakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta, pertengahan Desember 2016. Alumnus Universitas Hasanuddin Makas sar jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak ini menerangkan, lahan sawit di Indonesia berpotensi untuk pengembangan sawit-sapi. “Dengan areal sawit seluas 11,3 juta ha dengan luas areal Tanaman Meng hasilkan (TM) 8,5 juta ha, dari sisi lahan dan pakan ini sangat berpotensi untuk pengembangan. Potensi daya tampung sapi diperkirakan sekitar 4 juta-5 juta ekor, tapi baru bisa dioptimalkan sebanyak 70 ribu ekor,” urainya.

Inovasi

Karena itu Kementan melakukan kerjasama dan kemitraan de ngan PT Perkebunan Nusan ta ra (PTPN), PT Rajawali Nu santara Indonesia (PT RNI), perkebunan rakyat, dan per usahaan perkebunan swasta untuk pengembangan sapi-sawit. Namun, integrasi sa wit-sapi masih menghadapi hambatan, seperti pengusaha sa wit yang belum memandang budidaya sapi potong sebagai bisnis yang menjanjikan. Kemudian, berembus pula isu sapi dapat merusak tanaman sawit muda, memadatkan ta nah, dan mem bawa parasit me rugikan bagi tanaman sawit.

Pemerintah melalui BPPT Deputi bidang Teknologi Agro industri dan Bioteknologi menghasilkan inovasi teknologi peternakan untuk sistem integrasi sawit-sapi. Inovasi tersebut antara lain, aplikasi sistem perekaman hewan (SiPINTER), aplikasi formulasi pakan ruminansia (SiPANDAI), Powerfeed, Nutritech, Minetech, dan Probiotech. Lembaga penelitian di bawah Kemen terian Riset dan Teknologi (Kemristek) ini sudah melakukan model integrasi sawitsapi dengan peternak rakyat, Kelompok Karya Lestari, di Pelalawan, Riau.

Mukhtaruddin, Kepala Dinas Peternakan Kab. Pelalawan melaporkan adanya tambahan pemasukan bagi kelompok tani yang melakukan integrasi sawit-sapi. Keuntungan ini didapat dari biogas sebanyak 7%, pupuk bokasi 12%, pengembang an populasi 21%, penggemukan 27%, dan pupuk organik cair sebesar 33%. “Hasil hitungan per 31 Desember 2015, total hasil usaha yang didapat kelompok setelah pajak itu sekitar Rp130 jutaan,” ungkapnya. Dari 26 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Pelalawan, ada 4 PKS yang sudah melakukan kerjasama dengan peternak.